Jumat, 15 April 2011

OPERA VAN JOURNALIST PART


Tinggal menghitung hari, acara opera van journalist yang di adakan oleh mahasiswa-mahasiswi Fakultas Dakwah dan komunikasi jurusan jurnalistik segala persiapan telah dilaksanakan. Pengajuan proposal telah di layangkan sebagian perusahaan-perusahaan di sumsel. Para panitia pelaksana menunggu konfirmasi dari perusahaan-perusahaan tersebut dengan hati yang cemas.
Ujar ketua pelaksana Asrul Hidayat (19 tahun) bahwa persiapan koordinar panitia-panitia hal-hal yang di butuhkan. Kendala-kendala dimana anggaran untuk HMJ belum keluar atau cair dan terbatasnya anggaran HMJ. Membuat kami memperlambat kerja nya.
Acara ini banyak mengalami kendala-kendala yang berarti,baik dari para panitianya sendiri maupun kendala dari pengurus HMJ itu sendiri. Kendala yang paling utama adalah masalah dana karena sangat minimnya dana operasional dan anggaran untuk HMJ jurnalistik belum cair. Karena untuk jurusan jurnalis ini baru di Fakultas Dakwah sehingga dana operasionalnya tersendat.
Besar harapan kegiatan ini harus terlaksana hingga lancar dan sukses. Dan harapan yang paling utama pengajuan proposal acara ini di terima dan perusahaan-perusahaan yang telah diajukan. Panitia bergotong royong demi suksesnya acara ini dan adanya kerja sama yang saling memuaskan.   

Efri, Sri, Sari, Shindi, Risky

Sabtu, 09 April 2011

PARKIR LIAR YANG MERUSAK PANDANGAN


IAIN-Ukhuwah, Selasa (06/04) dengan marakanya ke jadian yang di alami oleh mahasiswah yang mengakibatkan raibnya sepeda motor di gasak maling membuat para dosen dan mahasiswa melakukan parkir dihalaman yang dihijaukan. Tepatnya dihalaman dakwah depan ushuluddin yang mengakibatkan resahnya mahasiswa beserta dosen akibat ulah mahasiswa dan dosen memakirkan kendaraan yang bukan seharusnya dijadikan tempat parkir.
Ini diakibatkan kurangnya kesadaran yang dialami para pemilik kendaraan sehingga memarkirkan motornya disembarang tempat yang mengakibatkan kontrofersi yang dilakukan oleh mahasiswa yang cinta terhadap lingkungan.
Salah satunya mahasiswa fakultas dakwah Heru (21) yang menuturkan “dia sangat menyayangkan sekali terhadap tindakan para pemarkir liarrrr, yang dilakukan orang yang tidak bertanggung jawab.”
Mungkin ini tidak akan terjadi apabila dilakukanya ketegasan dari pada pihak rektorat, apa lagi telah di sediakannya tempat parkir yang cukup luas untuk mahasiswah dan dosen.

Widi

Jumat, 08 April 2011

KAMMI bersama Semangat Kaum Muda


KAMMI bersama Semangat Kaum Muda
IAIN- Ukhuwah, dalam rangka memperingati hari jadi KAMMI yang ke-12, maka para anggota KAMMI mengadakan seminar yang bertema “Kepemimpinan  semangat kaum muda”. Yang dilaksanakan pada hari ini, Jumat 08 April 2011 di gedung Auditorium IAIN Raden Fatah Palembang.
Seminar ini mengundang Walikota Palembang yang diwakilkan oleh Dencik sebagai pembicara, dan Jalaluddin dosen IAIN Raden Fatah Palembang. Peserta yang mengikuti seminar tersebut tidak hanya mahasiswa dari IAIN Raden Fatah Palembang saja, tetapi dari berbagai Universitas yang ada di Palembang seperti Politehnik Sriwijaya, Universitas Sriwijaya, Universitas PGRI Palembang, dan Universitas Muhammadiyah Palembang.
Imam Syafi’i, sebagai ketua pelaksana seminar tersebut menjelaskan bahwa tujuan diadakan seminar ini adalah untuk membuka pandangan kaum muda supaya lebih maju dan bisa mendapatkan wawasan serta ilmu yang mendalam tentang kepemimpinan sehingga tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti kita sebagai mahasiswa bisa menjadi pengganti generasi-generasi penerus untuk memimpin negeri ini sebagai wakil rakyat.
Imam sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa seminar ini disponsori oleh Rabbani. Selain itu dia juga menjelaskan bahwa untuk mengikuti seminar ini peserta hanya dikenakan biaya konstribusi sebesar Rp 3.000,-. Dengan biaya konstribusi yang hanya Rp 3.000,- tersebut para peserta sudah mendapatkan snack, fhotocopy makalah (materi yang disampaikan), dan sertifikat. Peserta yang mengikuti seminar ini berjumlah 112 orang yang terdiri dari 52 orang peserta laki-laki dan 60 orang peserta perempuan.
“Kendala-kendala yang kami hadapi dalam melaksanakan seminar ini tidak ada, sejauh ini semuanya lancar-lancar saja. Seminar-seminar seperti ini untuk kesekian kalinya kami selenggarakan dalam rangka memotivasi para kaum muda”. Jelasnya menambahkan.
Mahasiswa fakultas Tarbiyah ini mengungkapkan harapan dalam menyelenggarakan seminar ini agar lebih  membangkitkan jiwa kaum muda untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang baik dan memeliki jiwa kepemimpin yang tinggi. Sedangkan pesan untuk peserta yang mengikuti seminar ini khususnya mahasiswa dari IAIN Raden Fatah Palembang supaya dapat meluangkan waktu untuk menghadiri seminar ini karena selain gratis juga dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi mereka.
Endang herliana, mahasiswa jurusan Jinayah Siyasah Fakultas Syariah menungkapkan bahwa sangat disayangkan atas ketidakhadiran walikota yang kemudian diwakilkan kepada Dencik sebagai pembicara. Meskipun demikian, tidak mengurangi semangat pada diri saya untuk mengikuti seminar ini karena seminar ini memotivasi saya dan kaum muda untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki jiwa kepepimpinan yang baik suatu saat nanti.

By : Dwieq, iik, & Devie…

Rabu, 06 April 2011

Mahasiswa Gerah, Metode Belajar yang Tak Kondusif


IAIN-Ukhuwah, Selasa (05/04) suasana hiruk pikuk mahasiswa terdengar dari kejauhan, setelah dicari ternyata suara tersebut berasal dari ruang laboraturium komputer mahasiswa Sistem Informasi. Saat itu sedang berlangsung jam pelajaran sistem operasi, akan tetapi tidak terlihat dosen yang mengajar disana, yang terlihat hanya intruksi tugas yang ditulis di papan tulis untuk semua mahasiswa. Sebagian mahasiswa sedang sibuk mondar mandir dari satu komputer ke komputer lainnya, ada juga yang sedang sibuk bertanya kepada salah satu teman mereka yang dianggap cukup bisa mengerti tugas yang diberikan.
Semua mahasiswa terlihat bingung saat itu, nampaknya mereka belum mengerti dengan intruksi tugas yang diberikan tadi. Tak ada perintah lain dari pihak dosen yang mengajar, hanya saja jika sudah selesai langsung dikumpul dan diberikan kepadanya.
Banyak mahasiswa terkhususnya jurusan Sistem Informasi yang mengeluh dengan cara belajar yang seperti ini. Salah satunya Alwi, menurut dia “cara mengajar yang diberikan terlampau tinggi dengan hanya mengandalkan modul dan slide yang sebagian besar menggunakan bahasa inggris serta tidak adanya penjelasan yang memang benar – benar bisa membuat mahasiswa mengerti. Dengan cara belajar seperti ini belum tentu semua mahasiswa bisa langsung memahaminya.” Pungkasnya.
“Secara teori saja kami tidak mengerti apalagi dipraktekkan, apalagi pelajaran sistem operasi ini kedepannya sangat berpengaruh penting dengan jurusan yang kami ambil. Bagaimana mahasiswa bisa memahami jika dosennya saja bersikap acuh tak acuh seperti ini. Padahal saat semester pertama kemarin perwakilan dari beberapa mahasiswa sudah melaporkan masalah ini kepada Kepala Jurusan (Kajur) Sistem Informasi tetapi hasilnya nihil. Dosen yang bersangkutan masih saja diberbolehkan untuk mengajar kembali pada semester dua ini. Kami pun selaku mahasiswa tidak merasa nyaman dengan suasana belajar yang memang dari awal sudah terasa tidak bersahabat.” Ungkap Heri.
Para mahasiswa memang dituntut untuk selalu aktif terhadap setiap pelajaran akan tetapi jika melihat kenyataan yang terjadi seperti ini dosen pun mempunyai peranan penting apakah pelajaran tersebut memang telah disampaikan dengan baik atau belum. Sebagian mahasiswa yang berada pada jurusan yang sama merasa miris melihat kondisi pengajaran yang seperti ini, mudah – mudahan kedepannya pihak jurusan bisa lebih meneliti kembali apakah dosen tersebut memang siap untuk menyampaikan materi dengan baik atau hanya sekedar memberikan tugas tanpa ada penilaian apapun.
by. uwie

Selasa, 05 April 2011

Membangun Budaya Politik Santun



Oleh: A.Rifai Abun
Lektor Kepala (IV/c) dalam Mata Kuliah Filsafat Logika
Pada Fakultas Ushuluddin IAIN
Raden Fatah Palembang
Saat ini telah bermunculan bentuk-bentuk ketegangan dan konflik politik yang berakar pada kecurigaan antar kelompok. Saat ini begitu sulit untuk saling mempercayayi. Komunikasi macet akibatnya orang sulit menerima sebuah perbedaan. Ruang-ruang public dipasung dengan kebohongan, rekayasa, demagogi dan bahkan kekerasan. Antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya saling mencurigai. Maka akhirnya kekuasaan, tidak hanya dicari untuk kepentingan ekonomi, namun sudah mengarah untuk dijadikan alat balas dendam yang sangat menakutkan.
Bagaimana janji dan pengampunan bisa memutus rangkaian lingkaran setan curiga-konflik-kekerasan?. Apa arti sebuah janji jika yang dihadapi adalah kebohongan dan kemunafikan?. Apa artinya maaf kalau kekerasan selalu terulang.
Dalam The Human Condition orang tidak lagi mau menjawab dari mana datangnya kejahatan politik yang tiada batas. Tetapi, mau menjelaskan bahwa dunia politik yang tidak totaaliter dicari dalam refleksi tentang sumber perlawanan terhadaap kesewenang-wenangan dan sumber yang memungkinkan kembalinya kondisi manusia. Kondisi semacam ini hanya ditemukan di dalam rekonstruksi ruang public yang bersifat pluralitas
Budaya politik dan idiologi mahasiswa
Ketika seseorang akan membicarakn tentang budaya politik tentunya tidak bisa lepas dari etika politik, yang lebih menekankan pada aspek aspek normative  (moral dan etika) dalam kaitannya dengan praktik penyelenggaraan Negara. Cita-cita etika politik adalah semakin terbukanya keran kebebasan yang seringkali dimaknai sebagai democratic liberties – yang di dalamnya  terdapat kebebasan sosio politik, sehingga bebas mengeluarkan pendapat, berserikat dan berkumpul dan termasuk juga kebebasan pers. Juga semakin terciptanya lembaga-lembaga yang lebih adil. Untuk terujudnya kebebasan semacam itu orang harus menerima “pluralitas”. Karena pluralitas menandai kondisi politik yang manusia, bukan kondisi penindasan, atau kekerasan dalam rezim totaliter.
Melakukan aksi politik sebagai wujud dari kebebasan tersebut, berarti juga mengambil sebuah inisiatif, menggerakkan, memulai untuk melakukan suatu yang lebih baik. Di Indonesia, tercatat aksi politik, yang dimotori oleh kalangan mahasiswa atau aktivis pada masa Orde Baru, yang dengan keberanian yang sangat luar biasa menetang rezim Soeharto. Kejatuhan rezim Soeharto tersebut berkat adanya perjuangan politik yang tanpa mengenal lelah yang dimulai dari kalangan kampus yang di dalamnya terdapat mahasiswa – yang pada diri mereka itu masih melekat sebuah idiologi murni yang bergerak dan digerakkan oleh sebuah pengabdian masyarakat (tridarma Perguruan Tinggi).
Idiologi murni yang dimiliki mahasiswa itu dalam perjalanan sejarah bangsa telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan, dimana ketika para sebagian dari pemimpin bangsa ini tidak lagi mengusung nilai-nilai kesejahteraan dan kesetaraan masyarakat, mereka tampil dengan label idiologi dan intelektualnya untuk melakukan dan mengusung nilai-nilai perubahan yang sangat besar, yang sekalipun harus ditebus dengan sebuah pengorbanan yang besar. Mereka (mahasiswa) dengan tanpa takut dan gemetar sedikitpun, terus maju dan menyuarakan suara rakyat yang sudah lama terbungkam dan terbelenggu dengan sikap kepasrahan. 
Tesis dengan pemikiran “politik” yang dilandasi oleh tridarma perguruan tinggi yang telah menyatu pada dirinya dan bukan sebuah hafalan atau simbol kemahasiswaan, mahasiswa mampu menyelaraskan gerakan pro rakyat, dan mereka terus bergerak bersama-sama rakyat. Politik disini merupakan pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijakan umum untuk kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Karena kebutuhan terhadap politik lahir dari karakter kolektif kehidupan manusia. Oleh karenanya, kita tidak mempunyai pilihan untuk mempraktikkan politik. Sekalipun dunia politik seringkali dipandang sebagian orang dengan sikap sinis atau kotor. Namun, secara filosofis dan factual politik merupakan hal yang tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan seorang manusia. Dan ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Aristoteles (384-322 sm), bahwa man is by nature a political animal.
Sekalipun pada tahun-tahun sebelumnya terjadi kevakuman gerakan mahasiswa, yang selanjutnya mahasiswa dihadiahi SK Kopkamtib No Skep 02/kopkam/1978 dan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK), yang akibatnya gerakan mahasiswa kembali vakum. Lalu apakah yang terpikir oleh kita sebagai mahasiswa? Kenapa mahasiswa harus sadar dan santun politik? Mahasiswa adalah orang-orang yang berpotensi dan dalam gerakannya tidak di boncengi dengan kepentingan individu dan golongan tertentu. Dan mahasiswa sebagai bagian masyarakat yang intelek harus berani mengatakan yang benar adalah benar dan yang  salah adalah salah, karena mahasiswalah harapan rakyat  calon pemimpin bangsa, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab sosial merealisasikan amanah rakyat yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.
Lalu bagaimana kacamata mahasiswa saat ini tentang politik? masih adakah ruh-ruh perjuangan dan perubahan di jiwa mahasiswa? ini menjadi cerminan kita sebagai mahasiswa yang katanya agent of change. Lalu dimana agent of change itu saat ini? Apakah anda merasa sebagai aktivis? coba lihat lagi bagaimana pergerakan aktivitas kita apakah sebatas menjadikan pergerakan itu hanya sebagai event organization saja. Tanyakan pada diri kita masing-masing. Apakah kita termasuk mahasiswa yang terselimuti rasa was-was dan takut untuk melakukan koreksi terhadap kekuasaan, bahkan apatis terhadap apa itu “Politik”? Sehingga akhirnya berusaha untuk menjadi mahasiswa study oriented dalam keseharianya, lalu berusaha untuk  mendapatkan IPK  yang tinggi, selesai kuliah, cepat kerja dan membantu keluarga. Janganlah terjebak menjadi mahasiswa yang apatis yang arus berpikirnya ’hedonisme’. Karena menjadi ”Ahli Madya” saja tidak akan menjamin kita akan mendapat kerja dan hidup enak. Atau apakah dengan nilai IPK  yang tinggi akan dapat meyelesaikan masalah Negara. Sadarkanlah diri kita untuk menjadi mahasiswa yang maksimal, dengan IPK tinggi sebagai wujud amanah dari orang tua, tapi tidak kalah bangganya ketika kita menjadi seorang mahasiswa yang selalu memberikan kontribusi positip dalam dalam menyelesaikan masalah Negara ini.
Di hari-hari terakhir ini sungguh sangat disayangkan dan bahkan disesalkan oleh banyak pihak, di mana di beberapa kampus, para mahsiswa sudah mulai memudar dalam membangun politik santun dan ini tidak terlepas dari kultur modernisasi dan globalisasi yang cenderung mengikis idealisme mereka. Sehingga nampak lebih cendrung anarkhis, sporadis. Padahal, mereka memiliki peran besar sebagai ujung tombak perubahan, khusunya pada dunia politik.  Untuk itu, kesadaran berpolitik mahasiswa perlu ditingkatkan dengan memberikan pendidikan secara formal ataupun nonformal di kalangan mahasiswa dengan cara membukan keran-keran dialog dalam menyamakan persepsi untuk kembali menata kampus yang lebih kondusif demi kepentingan bersama dan terujutnya tridarma perguruan tinggi.
Tantangan utama “etika politik” atau filsafat politik di Indonesia adalah “kekerasan” dan “ketidakadilan” yang terangkum dalam kalimat “KEJAHATAN”. Munculnya kejahatan tersebut diakibatkan oleh politik kekuasaan. Saat ini praktik kekuasaan bukan dijalankan atas dasar etika politik, namun justru untuk mempertahankan kekuasaan itu sendiri. Banyak sekali konsesi diberikan yang justru mengorbankan tujuan utama politik (kesejahteraan bersama).  Kasus Susno Duaji, Gayus Tambunan, dan status DIY Yokyakarta yang hari-hari terakhir ini menjadi perbincangan yang serius di kalangan masyarakat banyak, dan kasus-kasus lainnya yang tak kunjung selesai adalah contoh yang representatif dari sebuah konflik kepentingan dan politik kekuasaan.

Sabtu, 02 April 2011

Bank Sumsel dan PLN Belum Terkalahkan

Berita Bola terkini

dikutip dari harian KOMPAS.com — Tim bola voli putra Palembang Bank Sumsel Babel dan putri Jakarta Electric PLN belum terbendung. Mereka kembali meraih kemenangan atas lawan-lawannya pada lanjutan Sampoerna Hijau Voli Proliga 2011 di GOR C-Tra Arena Cikutra, Kota Bandung, Sabtu (2/4/2011).
Rekor belum terkalahkan tim Palembang masih bertahan setelah mengalahkan putra Jakarta BNI 46 dengan skor tipis 3-2. Sementara putri Jakarta Electric PLN mengalahkan Gresik Petrokimia 3-0.
Kemenangan tim Palembang tidak diraih dengan mudah, bahkan nyaris terpeleset pada pertandingan ketujuhnya itu. Sempat memimpin dengan meraih kemenangan dua set pertama 25-21, 25-21, tetapi terkejar oleh Jakarta BNI yang meraih dua set berikutnya dengan skor ketat, 30-28 dan 26-24.
Beruntung, tim asuhan Pelatih Mashudi berhasil menguasai set ketiga dan menutup dengan kemenangan tipis, 15-13.
"Hasil ini diraih dengan susah payah. Kami akan mencari tahu kelengahan tim yang menyebabkan terkejar saat telah memimpin 2-0. Itu menjadi pekerjaan rumah kami menghadapi pertandingan berikutnya," kata Pelatih Palembang Bank Sumsel Babel Mashudi.
Sementara itu, Pelatih Jakarta BNI 46 Imam Agus Faisal menyebutkan, tim Palembang sulit untuk mereka hadang. Tim itu memiliki materi pemain cukup bagus.
"Sejak awal kami meminta pemain untuk bisa memberikan perlawanan ketat. Kekuatan mereka jelas sulit kami hadang sehingga kami tidak terlalu muluk," kata Imam yang akrab disapa Fafa itu.
Bagi Palembang, kemenangan tersebut menjadikannya sebagai tim belum terkalahkan dalam tujuh kali pertandingannya dengan nilai sempurna, sembilan. Bagi Jakarta BNI, kekalahan itu membuat peluangnya semakin tertutup untuk bisa menembus final four.
Pada pertandingan lainnya di kelompok putri, tim Jakarta Electric PLN juga melanjutkan dominasinya sebagai tim yang belum terkalahkan. Pada awal laga putaran kedua di Bandung itu, Jakarta Electric mengalahkan putri Gresik Petrokimia dengan 3-0 (25-18, 25-23, 25-22).
Jakarta Electric yang tahun ini berpeluang melakukan hattrik juara Proliga itu dipastikan lolos ke babak empat besar. Meski telah lolos, tim Jakarta Electric sesumbar tak akan mengendur dan tetap meraih poin maksimal.
Jakarta Electric PLN diperkirakan kian mendominasi dengan bergabungnya dua pemain China, Yan Ni dan Meng Yi. Berbeda dengan Gresik Petrokimia yang terpaksa harus turun dengan satu pemain asing, yakni Paula Alves. Satu pemain asing lainnya, Jalicia Rose, cedera.

Jumat, 01 April 2011

Ekonomi Syariah menuju Perekonomian Dunia


IAIN-Ukhuwah, Dalam rangka Pelantikan HMI Syariat Fakultas Syariah, para anggota HMI mengadakan seminar yang bertema “Peluang dan Tantangan Ekonomi Syariah terhadap perkembangan ekonomi dunia”. Yang akan dilaksanakan pada sabtu tanggal 2 April 2011 bertempat di Gedung Auditorium IAIN Raden Fatah Palembang. Sedangkan pembukaan pendaftaran seminar ini sudah dimulai sejak 21 Maret 2011 s/d 1 April hari ini.
Seminar Ekonomi Syariah yang mendatangkan pembicara antara lain, Barariani, Direktur Bank SumselBabel, Duski Ibrahim, Dekan Fakultas Syariah dan Renol Sumantri, Dosen D3 Perbankan serta Budi Santoso Pakar Ekonomi SUMSEL.
“Seminar tersebut bertujuan untuk membangun solidaritas yang tinggi diantara para kader HMI Syariat Fakultas Syariah,  mencari solusi ke depan untuk ekonomi syariah agar mampu bersaing di perekonomian dunia, dan memberi pemahaman tentang ekonomi syariah  yang lebih terperinci kepada seluruh mahasiswa khususnya mahasiswa fakultas syariah.” Ungkap Deniansyah, Ketua Pelaksana seminar tersebut.
Dia juga menambahkan, diperkirakan biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan seminar ini adalah Rp 3.500.000,-. Sedangkan kendala-kendala yang dihadapi selama membuka stand seminar tersebut tidak ada, dan sejauh ini semuanya berjalan lancar.
“Sasaran utama dalam mengadakan seminar ini adalah mahasiswa-mahasiswa yang ada di kota Palembang, khususnya mahasiswa IAIN raden Fatah Palembang dan terlebih khusus lagi mahasiswa fakultas Syariah. Sementara ini peserta yang sudah mendaftar untuk mengikuti seminar tersebut berjumlah kuarang lebih 200 peserta.” Jelasnya menambahkan.
Deniansyah juga menambahkan untuk mengikuti seminar ini, peserta hanya membayar konstribusi sebesar Rp 5.000,- , dengan konstribusi tersebut mereka sudah mendapatkan fasilitas berupa makan siang, snack, sertifikat, dan pastinya menambah ilmu pengetahuan.
“Saya berharap seminar Ekonomi Syariah yang akan diadakan besok berjalan dengan lancar dan hikmat serta bisa memberikan manfaat ilmu pengetahuan terhadap peserta maupun mahasiswa IAIN  pada umumnya.” Tungkasnya.

By : Dwi Indarwati & Dwi Latifah