Kamis, 21 April 2011
Workshop jurnalistik Radio & Audisi Penyiar Radio
Diposting oleh
Ukhuwah News
di
07.15
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Sabtu, 16 April 2011
Rinduku hanyut di watervang
Subuh itu gemricik air dari watervang[1] cukup deras dimusim penghujan dengan udara dingin yang menusuk tulang belulang disekujur tubuh Reni. Ditepisnya dinginnya suasana watervang yang telah dibuat belanda pada masa penjajahan belanda di bumi silampari ,sebutan hangat masyarakat Lubuklinggau dan Musirawas tentang alam didaerah itu.Serta membayangkan sinar mentari hangat yang akan terbit pagi itu di balik jembatan gantung,kelang beberapa setapak dan menatap indah dibawah air terjun dari atas jembatan tersebut dengan bui-bui disungai .Suasana yang khas ini tak ditemukannya sepeninggalnya di Palembang dulu. Dengan ditemani nyanyian burung yang berkicau harmonis seperti melodi indah yang menggema terbawa deru arus sungai kelingi disebelah rumahnya, setelah salat subuh ia melipat telekung, yaitu perangkat untuk sholat yang biasa dipakai perempuan melayu termasuk daerah didaerah lubuklinggau.Setelah itu pikirnya pun melayang dan ingin membuka memori-memori indah yang menjadi hal paling istimewa dalam hidupnya. Ia raih buku agenda berwarna merah jambu yang ada di gerobok[2] dengan tangan yang masih basah usai mengusap bening berkilau usai bermunajat disubuh tadi,di gerobok itu Reni tempat menyimpan perkakas pribadinya dan memandang catatan yang tersusun begitu rapi dan indah dengan goresan tinta biru.
Lalu Reni berjalan sendiri menyusuri jalan setapak tangga hingga jembatan watervang sambil membawa lembaran-lembaran harapan yang sudah tercecer rusak dengan warna merah muda yang sengaja ia bawa untuk dibaca diatas jembatan watervang yang mengalir air terjun dibawahnya. Tak disangka apalagi bermimpi waktu membawanya pada detik ini,Reni terus membawa balutan pilu yang berasal dari sela-sela munajatnya disepertiga malam serta di subuh tadi, dan di tengah jembatan gantung yang usang ini sambil memandang sungai Kelingi yang setiap waktu mengalirkan air-airnya mengairi sawah-sawah petani.
Rasanya Reni bertekad ingin berlari sekuat-kuatnya dari cengkeraman dunia yang sudah berhasil membuat pikirnya tak ingat apa yang sering diucapkan emaknya setiap ia berkunjung kerumah emaknya yaitu segala sesuatu milik allah dan akan kembali pada allah .Ia mencoba keluar dari semua lingkaran hitam yang sudah menutupi sebagian hidupnya. Impian-impian kecilnya yang ia mulai rajut dari sejak jadi aktivis dikampus sampai waktu jadi istri dan jadi orang tua bagi anaknya beberapa tahun silam. Kini ia benar-benar hanya ingin pergi sejauh mungkin.
Selalu gundah gulana qolbunya walaupun terus setiap pekan diberi asupan gizi berbentuk motivasi oleh Murobbiah -- sebutan guru pengajiannya-- tapi rasa itu terus membayangi dan mengejarnya dikala Reni memejamkan kedua mata sendunya saat malam hari tiba. Peristiwa indah yang dengan susah payah ia ciptakan,Berat rasa hati dan memaksanya untuk merelakan kepergian semua yang ia miliki tanpa tersisa. Peristiwa yang menjadikan seorang aktivis yang dulu energik harus mengalah pada kehidupan sejati miliknya.
***
dibaca buku itu di tengah jembatan watervang setelah memandang beberapa menit batu kecil yang dipukul oleh air terjun di bawah jembatan yang ia naiki itu.
Lalu ia buka lembaran-lembaran jembatan pelangi yang rusak itu dan memfokuskan pada tangga l9 September yaitu hari yang mana tepat hari ini ditahun yang berbeda peristiwa penting terjadi dalam hidupnya secara bersamaan.yaitu peristiwa ta’aruf yang menjadi awal proses peminangan dengan arif suaminya yang bersamaan dengan disematkan toga di atas jilbab hitamnya yang ia usahakan selama empat tahun diiringi sibuknya ia sewaktu jadi aktivis pergerakan dikampusnya dulu, yang seketika merubah nama aslinya dengan sedikit embel-embel dibelakang namanya ,disela semilirnya angin yang mendayu mesra berhembus di bumi silampari,Reni mulai membuka lembar demi lembar catatan-catatan bersejarahnya.
Disuatu senja yang cerah 13 tahun lalu. Termaktub isinya anakku Anisa 9 September di tahun berikutnya pada catatan itu yaitu kelahiran putrinya yang bernama Anisa di kota permai Palembang disebuah rumah yang berada dihilir sungai Musi namanya rumah limas,rumah khas sumatera selatan ini menjadi pondok keluarga kecil Reni bernaung.
***
Aroma air sungai Kelingi yang sejuk tak dapat menghentikan jari jemari Reni untuk terus membuka catatan bertinta biru ini.
Putrinya kini beranjak delapan tahun “Anisa” begitu panggilanya, rencana Reni dan Arif pada hari itu Anisa diikutkan kompetisi festival Musik yang diadakan sekolahnya SD-IT,Sudah sebulan ini ia latihan dengan tekun.lalu di depan ayahnya ia memamerkan kepiawayannya bermain biola yang merupakan hasil latihannya selama ini dengan melodi-melodi lagu “umi” dari Haddad Alwi dan Sulis,beberapa komentar diutarakan abi,panggilan akrab anisa kepada ayahnya “pasti yang menang anak abi besok”kata abi anisa sambil mengusap jilbab Anisa,“baguskan karena masakan umi bi”kata Anisa yang lugu yang berusaha melucu.Anisa adalah anak yang kreatif tapi cerewet yang sering membuat umi dan abinya kualahan tapi kedua orang tua sangat sayang kepada Anisa,selesai memamerkan kepiawannya menggesek biola dengan jemari kecilnya, dari jarak 5 meter umi anisa tepuk tangan tanda kagum dengan talenta anak yang sangat disayanginya itu dan ia berberjanji kalau tampilnya nanti pada saat lomba bagus akan diajaknya anisa liburan kekampung halaman uminya dan melihat air terjun watervang ,yang sering diceritakan uminya sebelum ia menyelami mimpi dibeberapa malamnya.Anisa meloncat kegirangan dan tidak memperdulikan pujian dari sang ayah yang berkata bahwa pagi ini ia terlihat sangat cantik.
***
Keesokan pagi harinya lantaran lomba usai Anisa dengan bibirnya yang tipis berkata dengan senyum bak kejatuhan mutiara dari langit lantaran abinya mengatakan tampilnya sempurna.
“Umi…..umiii ! nanti kalau liburan umi,abi,dan Anisa jadikan kerumah nenek di Linggau kan sudah janji,anisa mau lihat air terjun watervang”katanya sambil bersandar dipelukan uminya
“Umi,janji deh nenekmu juga kan kangen sama anisa”pungkas Reni.
Sebetulnya Reni sudah tahu bahwa anaknya juara dalam perlombaan yang diadakan sekolahnya kemarin lantaran jurinya adalah temannya satu Aliyah dulu ketika sama-sama pakai putih abu-abu.Keluarga kecil ini sangat bahagia karena mereka masih diberikan keharmonisan keluarga yang begitu mahalnya bila diuangkan tak cukuplah seisi jagad raya untuk menggantikan kebahagian keluarga ini,semua kejadian-kejadian ini adalah sebagian kecil dari begitu harmonis keluarga ini.
Dihari ini Reni spesial memasak empek-empek kapal selam [3] yang telah disediakan dimeja makan dan pindang tulang kesukaan suaminya yang belum selesai dimasak, kring…..kring…. deringan telepon yang memanggil tuan rumah cukup lama menyadarkan Reni dari kesibukan memasak Pindang tulang dengan resep dari ibu mertua kesayangannya dengan berbagai bumbu yang dibeli dari pasar PAL5 yang berada tak jauh dari rumahnya. Dengan langkah setengah berlari, ia bergegas menuju sebuah meja disebelah kursi garuda diruang tamu, lantaran tangannya kotor ia basuh dengan lap yang bermotif batik bekas bajunya pada saat ospek waktu kuliah dulu , suara deringan terhenti,ketika baru ia mengangkat telepon yang sudah dimakan usia lalu Ia hanya menghela nafas karena belum sempat bicara, dan Ia rebahkan badannya dan menyeka keringat yang menetes di dahinya,lalu ia siap-siap mengambil kamera untuk berfose dengan anaknya yang membawa tropy dari lomba yang dipentaskan kemarin.
Telah cukup lama ia menunggu di atas kursi garuda karena sudah lama menunggu Seketika dering teleponnya berbunyi kembali meleburkan khayalan bahagianya diatas kursi garuda itu diangkat beberapa masa telepon yang bakal jadi veteran itu dan terkejutlah ia seakan hatinya tak bisa bicara seakan ia tak sanggup lagi hidup didunia matanya terpejam sejenak dan bening berkilau tak sempat tertahan lagi keluar dari mata birunya mengalir membasahi jilbab putihnya,tersedu-sedu sendirian dirumah sambil menunggu kedatangan jenazah saumi dan anaknya. Kabar paling menyakitkan dalam hidupnya. Kini sudah tidak ada lagi semua hanya bisa menjadi telaga air mata yang ditelaga itu bersemayam kedua orang yang disayang.Seakan tubuh ini lemas gagang teleponpun seketika terlepas dari tangan Reni.Tersiar kabar suami dan anaknya pada saat pulang dari sekolah kejadianya tepat saat suami tercinta menjemput putrinya yang memegang tropy kemenangan pertamanya yang sekarang semuanya hancur dilindas ban truk,hal ini terjadi lantaran mereka mengalami kecelakaan akibat tertabrak sebuah truk yang pengemudinya kantuk.
Begitu hancur hati Reni karena keluarga yang ia rajut siang malam tak akan kembali,hatinya bak teriris sembilu dan mukanya seketika pucat pasih dan bening berkilau mengalir membasahi seluruh jiwanya.
***
Sejak saat itu sangat butuh waktu untuk melupakan kedua orang yang disayang bahkan ribuan kali jilbabnya terguyur deras dibeberapa tahun ini lantaran masa lalunya.Takdir ini bagaikan memaksa Reni meminum kopi yang tak tercampur gula sedikitpun.Ratusan Konselor dan ratusan Psikiater sudah coba didatangi hasilnya nihil,Tapi masa-masa indah itu selalu terhirup disela-sela nafas Reni.beberapa ikhtiar malah membuat semangat hidupnya menurun.Reni dan Segala memori indahnya yang ia tenun di buku itu selalu bersatu dengan air mata yang menetes deras di setiap waktu. Mak yang melahirkan Reni dan Murobbiah Reni pun tak bisa mencegah kepiluan hatinya,tapi semuanya tidak berhasil menciptakan sebuah senyuman pun di wajah Reni yang sudah berselimutkan duka.
Kini ia harus menerima apa yang dikatakan takdir. Walau bayang-bayang wajah Arif, suami tercintanya dan celoteh manja Anisa pun selalu terngiang ditelinganya. Rajutan-rajutan mimpi pernah ia goreskan dengan tinta biru di buku catatan berwarna merah muda yang menjadi buku cerita kehidupannya kini sudah tidak lagi ia pedulikan.
Sekarang hanya bisa mengingat rumah Limas yang ia tempati dulu dan mengubur semua mimpi-mimpi indah.dan sekarang tampak terlihat samar setelah tiga tahun berlalu jauh lubuk hati memandang lalu dia teringat janjinya kepada Anisa untuk membawanya ke Watervang.
Watervang yang disekelilingnya berselimut embun pagi diatas jembatan wisata ini diiringi deru air terjun dari bawahnya . Dari kejauhan terlihat sosok samar-samar Arif dan Anisa yang berlari menjauhi Reni sambil melambaikan tangan dan menuju hilir sungai Kelingi mereka berlari semakin jauh dan semakin jauh,tetesan bening berkilau terus mengalir menetes dan satu-persatu jatuh kesungai yang airnya jernih seakan air sungai Kelingi terus membawa jauh luka lara dihatinya dan akhirnya senyum Reni merekah bak bangkit dari masa suram yang ingin membuang jauh-jauh masa lalu dan memandang jauh kemasa depan.
***
Dan ia lempar buku bagaikan melempar dengan batu seekor ular berbisa yang akan mematuknya,buku berwarna merah muda itu seketika melayang di air terjun watervang yang airnya begitu deras sehingga membawa kenangan-kenangan lalu menjauh terbawa arus Kelingi dan pada saat itu pula entah kenapa terhenyut pikirannya teringat tentang petuah mendiang bapaknya yang disemayamkan dikaki bukit Sulap 15 tahun lalu ,petuah ini terikrar ketika Reni masih gadis,dengan lembut bapak berkata“oi Dehe bak,payo kalu nga linjang same sape be gek jengan 100% cukup 99% bae kecuali dengan allah”[4] lalu ia usap bening berkilau dimukanya lalu ia gerakan tubuh menuju surau kecil didekat rumahnya sambil menguatkan hati.
21.00-03.00 dan 21.00-22.13
Tulisan ini ditulis oleh pemuda yang terlahir
di kota lubuklinggau 19 tahun yang lalu
,ia sekarang aktif mencari ilmu kesusastraan forum lingkar pena
Cab. Palembang sejak di KCM season 7.SEPRIANTO namanya
ia berusaha mengangkat unsur lokalitas daerahnya.
Ia sekarang kuliah Di fakultas Dakwah dan komunikasi
Jurusan BPI-Konseling A.
[1] Sebuah tempat wisata di kota Lubuklinggau sekaligus sebuah air terjun buatan dan diatasnya terdapat jembatan penyeberangan yang airnya untuk irigasi sawah yang mengairi tanah petani di Kab. Musirawas yang berasal dari sungai kelingi di kota Lubuklinggau didirikan oleh belanda dan diresmikan jepang 1941.
[2] lemari
[3] Makanan khas Palembang yang berbahan dasar sagu yang diolah dan biasanya disajikan dengan cuka.
[4] Oi gadis bapak,bila seandainya kamu cinta sama siapa nanti jangan cinta 100% cukup 99% saja Kecuali dengan allah.
Diposting oleh
Ukhuwah News
di
07.55
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Siapkan Bujang Lapuk pada pelantikan
Ukhuwah-IAIN, Teater Refah, begitulah nama salah satu UKMK yang ada di Kampus Hijau IAIN Raden Fatah Palembang yang berdiri sejak 8 tahun lalu tepat nya pada 30 Desember 2003. Untuk sekarang anggotanya berjumlah 42 orang, baik putri maupun putra sedangkan dari angkatan ’10 berjumlah 14 orang.
UKMK yang didirikan oleh beberapa orang diantaranya; M.Daud Firdaus, Muhlis, Rohali, dan Faturrahman tidak beberapa lama lagi akan melaksanakan pelantikan Ketua Umum Baru bertempat di Gedung Auditurium IAIN RF.
Tepat pada 12 Maret lalu, sudah terpilih ketua umum yang baru, namun proses pelantikan belum terlaksana karena menunggu dari pihak rektorat.
Ilham Jauhari terpilih sebagai Ketua Umum Teater Refah yang baru, menggantikan posisi M. Risqullah.
M. Risqullah ketika dikonfirmasi crew Ukhuwah hanya berharap agar Teater Refah bisa lebih maju dan dapat dikenal lebih luas lagi.
Yayak, Ketua Pelaksana mengatakan pada pelaksanaan pelantikan nanti, akan diawali dengan tari-tarian yang akan dibawakan oleh anak- anak Teater sendiri. Lanjut dia mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengirimkan surat permohonan yang ditujukan kepada Pembantu Rektor III IAIN RF untuk pelantikan pimpinan yang baru tersebut.
M. Abdullah Ajinegara, sutradara dalam pementasan nanti mengatakan bahwa Tema dalam pementasan yang akan berlangsung pada 28 April nanti berjudul Bujang Lapuk, yang akan dipentaskan oleh 12 orang diantaranya, Yaya (ibu), Abi (ayah), Nofri (Bejo), Restu dan Tata (bidadari), Nana (janda kaya), Yessa (Carolin), Sari Dewi (Siti), dan Bimas Bukim (Peri), mereka ini akan mengkolaborasikannya di depan tamu undangan pada hari pelantikan yang akan datang sehingga acara akan menjadi menarik dan hikmat dengan hiburan-hiburan ini.
“Hingga saat ini persiapan terus dilakukan dengan latihan setiap ada waktu luang dengan harapan ketika hari pelaksanaan nanti tidak demam panggung sehingga tidak terdapat kesalahan-kesalahan yang tidak diinginkan.” Lanjutnya menambahkan.
“Dan harapan kami semoga kegiatan kami berjalan dengan lancar sampai akhir kegiatan tersebut,” Pungkasnya.
by. Widi
Diposting oleh
Ukhuwah News
di
07.35
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Jumat, 15 April 2011
OPERA VAN JOURNALIST PART
Tinggal menghitung hari, acara opera van journalist yang di adakan oleh mahasiswa-mahasiswi Fakultas Dakwah dan komunikasi jurusan jurnalistik segala persiapan telah dilaksanakan. Pengajuan proposal telah di layangkan sebagian perusahaan-perusahaan di sumsel. Para panitia pelaksana menunggu konfirmasi dari perusahaan-perusahaan tersebut dengan hati yang cemas.
Ujar ketua pelaksana Asrul Hidayat (19 tahun) bahwa persiapan koordinar panitia-panitia hal-hal yang di butuhkan. Kendala-kendala dimana anggaran untuk HMJ belum keluar atau cair dan terbatasnya anggaran HMJ. Membuat kami memperlambat kerja nya.
Acara ini banyak mengalami kendala-kendala yang berarti,baik dari para panitianya sendiri maupun kendala dari pengurus HMJ itu sendiri. Kendala yang paling utama adalah masalah dana karena sangat minimnya dana operasional dan anggaran untuk HMJ jurnalistik belum cair. Karena untuk jurusan jurnalis ini baru di Fakultas Dakwah sehingga dana operasionalnya tersendat.
Besar harapan kegiatan ini harus terlaksana hingga lancar dan sukses. Dan harapan yang paling utama pengajuan proposal acara ini di terima dan perusahaan-perusahaan yang telah diajukan. Panitia bergotong royong demi suksesnya acara ini dan adanya kerja sama yang saling memuaskan.
Efri, Sri, Sari, Shindi, Risky
Diposting oleh
Ukhuwah News
di
23.47
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Sabtu, 09 April 2011
PARKIR LIAR YANG MERUSAK PANDANGAN
IAIN-Ukhuwah, Selasa (06/04) dengan marakanya ke jadian yang di alami oleh mahasiswah yang mengakibatkan raibnya sepeda motor di gasak maling membuat para dosen dan mahasiswa melakukan parkir dihalaman yang dihijaukan. Tepatnya dihalaman dakwah depan ushuluddin yang mengakibatkan resahnya mahasiswa beserta dosen akibat ulah mahasiswa dan dosen memakirkan kendaraan yang bukan seharusnya dijadikan tempat parkir.
Ini diakibatkan kurangnya kesadaran yang dialami para pemilik kendaraan sehingga memarkirkan motornya disembarang tempat yang mengakibatkan kontrofersi yang dilakukan oleh mahasiswa yang cinta terhadap lingkungan.
Salah satunya mahasiswa fakultas dakwah Heru (21) yang menuturkan “dia sangat menyayangkan sekali terhadap tindakan para pemarkir liarrrr, yang dilakukan orang yang tidak bertanggung jawab.”
Mungkin ini tidak akan terjadi apabila dilakukanya ketegasan dari pada pihak rektorat, apa lagi telah di sediakannya tempat parkir yang cukup luas untuk mahasiswah dan dosen.
Widi
Diposting oleh
Ukhuwah News
di
09.50
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Jumat, 08 April 2011
KAMMI bersama Semangat Kaum Muda
KAMMI bersama Semangat Kaum Muda
IAIN- Ukhuwah, dalam rangka memperingati hari jadi KAMMI yang ke-12, maka para anggota KAMMI mengadakan seminar yang bertema “Kepemimpinan semangat kaum muda”. Yang dilaksanakan pada hari ini, Jumat 08 April 2011 di gedung Auditorium IAIN Raden Fatah Palembang.
Seminar ini mengundang Walikota Palembang yang diwakilkan oleh Dencik sebagai pembicara, dan Jalaluddin dosen IAIN Raden Fatah Palembang. Peserta yang mengikuti seminar tersebut tidak hanya mahasiswa dari IAIN Raden Fatah Palembang saja, tetapi dari berbagai Universitas yang ada di Palembang seperti Politehnik Sriwijaya, Universitas Sriwijaya, Universitas PGRI Palembang, dan Universitas Muhammadiyah Palembang.
Imam Syafi’i, sebagai ketua pelaksana seminar tersebut menjelaskan bahwa tujuan diadakan seminar ini adalah untuk membuka pandangan kaum muda supaya lebih maju dan bisa mendapatkan wawasan serta ilmu yang mendalam tentang kepemimpinan sehingga tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti kita sebagai mahasiswa bisa menjadi pengganti generasi-generasi penerus untuk memimpin negeri ini sebagai wakil rakyat.
Imam sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa seminar ini disponsori oleh Rabbani. Selain itu dia juga menjelaskan bahwa untuk mengikuti seminar ini peserta hanya dikenakan biaya konstribusi sebesar Rp 3.000,-. Dengan biaya konstribusi yang hanya Rp 3.000,- tersebut para peserta sudah mendapatkan snack, fhotocopy makalah (materi yang disampaikan), dan sertifikat. Peserta yang mengikuti seminar ini berjumlah 112 orang yang terdiri dari 52 orang peserta laki-laki dan 60 orang peserta perempuan.
“Kendala-kendala yang kami hadapi dalam melaksanakan seminar ini tidak ada, sejauh ini semuanya lancar-lancar saja. Seminar-seminar seperti ini untuk kesekian kalinya kami selenggarakan dalam rangka memotivasi para kaum muda”. Jelasnya menambahkan.
Mahasiswa fakultas Tarbiyah ini mengungkapkan harapan dalam menyelenggarakan seminar ini agar lebih membangkitkan jiwa kaum muda untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang baik dan memeliki jiwa kepemimpin yang tinggi. Sedangkan pesan untuk peserta yang mengikuti seminar ini khususnya mahasiswa dari IAIN Raden Fatah Palembang supaya dapat meluangkan waktu untuk menghadiri seminar ini karena selain gratis juga dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi mereka.
Endang herliana, mahasiswa jurusan Jinayah Siyasah Fakultas Syariah menungkapkan bahwa sangat disayangkan atas ketidakhadiran walikota yang kemudian diwakilkan kepada Dencik sebagai pembicara. Meskipun demikian, tidak mengurangi semangat pada diri saya untuk mengikuti seminar ini karena seminar ini memotivasi saya dan kaum muda untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki jiwa kepepimpinan yang baik suatu saat nanti.
By : Dwieq, iik, & Devie…
Diposting oleh
Ukhuwah News
di
04.50
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Rabu, 06 April 2011
Mahasiswa Gerah, Metode Belajar yang Tak Kondusif
IAIN-Ukhuwah, Selasa (05/04) suasana hiruk pikuk mahasiswa terdengar dari kejauhan, setelah dicari ternyata suara tersebut berasal dari ruang laboraturium komputer mahasiswa Sistem Informasi. Saat itu sedang berlangsung jam pelajaran sistem operasi, akan tetapi tidak terlihat dosen yang mengajar disana, yang terlihat hanya intruksi tugas yang ditulis di papan tulis untuk semua mahasiswa. Sebagian mahasiswa sedang sibuk mondar mandir dari satu komputer ke komputer lainnya, ada juga yang sedang sibuk bertanya kepada salah satu teman mereka yang dianggap cukup bisa mengerti tugas yang diberikan.
Semua mahasiswa terlihat bingung saat itu, nampaknya mereka belum mengerti dengan intruksi tugas yang diberikan tadi. Tak ada perintah lain dari pihak dosen yang mengajar, hanya saja jika sudah selesai langsung dikumpul dan diberikan kepadanya.
Banyak mahasiswa terkhususnya jurusan Sistem Informasi yang mengeluh dengan cara belajar yang seperti ini. Salah satunya Alwi, menurut dia “cara mengajar yang diberikan terlampau tinggi dengan hanya mengandalkan modul dan slide yang sebagian besar menggunakan bahasa inggris serta tidak adanya penjelasan yang memang benar – benar bisa membuat mahasiswa mengerti. Dengan cara belajar seperti ini belum tentu semua mahasiswa bisa langsung memahaminya.” Pungkasnya.
“Secara teori saja kami tidak mengerti apalagi dipraktekkan, apalagi pelajaran sistem operasi ini kedepannya sangat berpengaruh penting dengan jurusan yang kami ambil. Bagaimana mahasiswa bisa memahami jika dosennya saja bersikap acuh tak acuh seperti ini. Padahal saat semester pertama kemarin perwakilan dari beberapa mahasiswa sudah melaporkan masalah ini kepada Kepala Jurusan (Kajur) Sistem Informasi tetapi hasilnya nihil. Dosen yang bersangkutan masih saja diberbolehkan untuk mengajar kembali pada semester dua ini. Kami pun selaku mahasiswa tidak merasa nyaman dengan suasana belajar yang memang dari awal sudah terasa tidak bersahabat.” Ungkap Heri.
Para mahasiswa memang dituntut untuk selalu aktif terhadap setiap pelajaran akan tetapi jika melihat kenyataan yang terjadi seperti ini dosen pun mempunyai peranan penting apakah pelajaran tersebut memang telah disampaikan dengan baik atau belum. Sebagian mahasiswa yang berada pada jurusan yang sama merasa miris melihat kondisi pengajaran yang seperti ini, mudah – mudahan kedepannya pihak jurusan bisa lebih meneliti kembali apakah dosen tersebut memang siap untuk menyampaikan materi dengan baik atau hanya sekedar memberikan tugas tanpa ada penilaian apapun.
by. uwie
Diposting oleh
Ukhuwah News
di
02.56
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Postingan (Atom)
