Selasa, 05 April 2011

Membangun Budaya Politik Santun



Oleh: A.Rifai Abun
Lektor Kepala (IV/c) dalam Mata Kuliah Filsafat Logika
Pada Fakultas Ushuluddin IAIN
Raden Fatah Palembang
Saat ini telah bermunculan bentuk-bentuk ketegangan dan konflik politik yang berakar pada kecurigaan antar kelompok. Saat ini begitu sulit untuk saling mempercayayi. Komunikasi macet akibatnya orang sulit menerima sebuah perbedaan. Ruang-ruang public dipasung dengan kebohongan, rekayasa, demagogi dan bahkan kekerasan. Antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya saling mencurigai. Maka akhirnya kekuasaan, tidak hanya dicari untuk kepentingan ekonomi, namun sudah mengarah untuk dijadikan alat balas dendam yang sangat menakutkan.
Bagaimana janji dan pengampunan bisa memutus rangkaian lingkaran setan curiga-konflik-kekerasan?. Apa arti sebuah janji jika yang dihadapi adalah kebohongan dan kemunafikan?. Apa artinya maaf kalau kekerasan selalu terulang.
Dalam The Human Condition orang tidak lagi mau menjawab dari mana datangnya kejahatan politik yang tiada batas. Tetapi, mau menjelaskan bahwa dunia politik yang tidak totaaliter dicari dalam refleksi tentang sumber perlawanan terhadaap kesewenang-wenangan dan sumber yang memungkinkan kembalinya kondisi manusia. Kondisi semacam ini hanya ditemukan di dalam rekonstruksi ruang public yang bersifat pluralitas
Budaya politik dan idiologi mahasiswa
Ketika seseorang akan membicarakn tentang budaya politik tentunya tidak bisa lepas dari etika politik, yang lebih menekankan pada aspek aspek normative  (moral dan etika) dalam kaitannya dengan praktik penyelenggaraan Negara. Cita-cita etika politik adalah semakin terbukanya keran kebebasan yang seringkali dimaknai sebagai democratic liberties – yang di dalamnya  terdapat kebebasan sosio politik, sehingga bebas mengeluarkan pendapat, berserikat dan berkumpul dan termasuk juga kebebasan pers. Juga semakin terciptanya lembaga-lembaga yang lebih adil. Untuk terujudnya kebebasan semacam itu orang harus menerima “pluralitas”. Karena pluralitas menandai kondisi politik yang manusia, bukan kondisi penindasan, atau kekerasan dalam rezim totaliter.
Melakukan aksi politik sebagai wujud dari kebebasan tersebut, berarti juga mengambil sebuah inisiatif, menggerakkan, memulai untuk melakukan suatu yang lebih baik. Di Indonesia, tercatat aksi politik, yang dimotori oleh kalangan mahasiswa atau aktivis pada masa Orde Baru, yang dengan keberanian yang sangat luar biasa menetang rezim Soeharto. Kejatuhan rezim Soeharto tersebut berkat adanya perjuangan politik yang tanpa mengenal lelah yang dimulai dari kalangan kampus yang di dalamnya terdapat mahasiswa – yang pada diri mereka itu masih melekat sebuah idiologi murni yang bergerak dan digerakkan oleh sebuah pengabdian masyarakat (tridarma Perguruan Tinggi).
Idiologi murni yang dimiliki mahasiswa itu dalam perjalanan sejarah bangsa telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan, dimana ketika para sebagian dari pemimpin bangsa ini tidak lagi mengusung nilai-nilai kesejahteraan dan kesetaraan masyarakat, mereka tampil dengan label idiologi dan intelektualnya untuk melakukan dan mengusung nilai-nilai perubahan yang sangat besar, yang sekalipun harus ditebus dengan sebuah pengorbanan yang besar. Mereka (mahasiswa) dengan tanpa takut dan gemetar sedikitpun, terus maju dan menyuarakan suara rakyat yang sudah lama terbungkam dan terbelenggu dengan sikap kepasrahan. 
Tesis dengan pemikiran “politik” yang dilandasi oleh tridarma perguruan tinggi yang telah menyatu pada dirinya dan bukan sebuah hafalan atau simbol kemahasiswaan, mahasiswa mampu menyelaraskan gerakan pro rakyat, dan mereka terus bergerak bersama-sama rakyat. Politik disini merupakan pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijakan umum untuk kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Karena kebutuhan terhadap politik lahir dari karakter kolektif kehidupan manusia. Oleh karenanya, kita tidak mempunyai pilihan untuk mempraktikkan politik. Sekalipun dunia politik seringkali dipandang sebagian orang dengan sikap sinis atau kotor. Namun, secara filosofis dan factual politik merupakan hal yang tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan seorang manusia. Dan ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Aristoteles (384-322 sm), bahwa man is by nature a political animal.
Sekalipun pada tahun-tahun sebelumnya terjadi kevakuman gerakan mahasiswa, yang selanjutnya mahasiswa dihadiahi SK Kopkamtib No Skep 02/kopkam/1978 dan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK), yang akibatnya gerakan mahasiswa kembali vakum. Lalu apakah yang terpikir oleh kita sebagai mahasiswa? Kenapa mahasiswa harus sadar dan santun politik? Mahasiswa adalah orang-orang yang berpotensi dan dalam gerakannya tidak di boncengi dengan kepentingan individu dan golongan tertentu. Dan mahasiswa sebagai bagian masyarakat yang intelek harus berani mengatakan yang benar adalah benar dan yang  salah adalah salah, karena mahasiswalah harapan rakyat  calon pemimpin bangsa, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab sosial merealisasikan amanah rakyat yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.
Lalu bagaimana kacamata mahasiswa saat ini tentang politik? masih adakah ruh-ruh perjuangan dan perubahan di jiwa mahasiswa? ini menjadi cerminan kita sebagai mahasiswa yang katanya agent of change. Lalu dimana agent of change itu saat ini? Apakah anda merasa sebagai aktivis? coba lihat lagi bagaimana pergerakan aktivitas kita apakah sebatas menjadikan pergerakan itu hanya sebagai event organization saja. Tanyakan pada diri kita masing-masing. Apakah kita termasuk mahasiswa yang terselimuti rasa was-was dan takut untuk melakukan koreksi terhadap kekuasaan, bahkan apatis terhadap apa itu “Politik”? Sehingga akhirnya berusaha untuk menjadi mahasiswa study oriented dalam keseharianya, lalu berusaha untuk  mendapatkan IPK  yang tinggi, selesai kuliah, cepat kerja dan membantu keluarga. Janganlah terjebak menjadi mahasiswa yang apatis yang arus berpikirnya ’hedonisme’. Karena menjadi ”Ahli Madya” saja tidak akan menjamin kita akan mendapat kerja dan hidup enak. Atau apakah dengan nilai IPK  yang tinggi akan dapat meyelesaikan masalah Negara. Sadarkanlah diri kita untuk menjadi mahasiswa yang maksimal, dengan IPK tinggi sebagai wujud amanah dari orang tua, tapi tidak kalah bangganya ketika kita menjadi seorang mahasiswa yang selalu memberikan kontribusi positip dalam dalam menyelesaikan masalah Negara ini.
Di hari-hari terakhir ini sungguh sangat disayangkan dan bahkan disesalkan oleh banyak pihak, di mana di beberapa kampus, para mahsiswa sudah mulai memudar dalam membangun politik santun dan ini tidak terlepas dari kultur modernisasi dan globalisasi yang cenderung mengikis idealisme mereka. Sehingga nampak lebih cendrung anarkhis, sporadis. Padahal, mereka memiliki peran besar sebagai ujung tombak perubahan, khusunya pada dunia politik.  Untuk itu, kesadaran berpolitik mahasiswa perlu ditingkatkan dengan memberikan pendidikan secara formal ataupun nonformal di kalangan mahasiswa dengan cara membukan keran-keran dialog dalam menyamakan persepsi untuk kembali menata kampus yang lebih kondusif demi kepentingan bersama dan terujutnya tridarma perguruan tinggi.
Tantangan utama “etika politik” atau filsafat politik di Indonesia adalah “kekerasan” dan “ketidakadilan” yang terangkum dalam kalimat “KEJAHATAN”. Munculnya kejahatan tersebut diakibatkan oleh politik kekuasaan. Saat ini praktik kekuasaan bukan dijalankan atas dasar etika politik, namun justru untuk mempertahankan kekuasaan itu sendiri. Banyak sekali konsesi diberikan yang justru mengorbankan tujuan utama politik (kesejahteraan bersama).  Kasus Susno Duaji, Gayus Tambunan, dan status DIY Yokyakarta yang hari-hari terakhir ini menjadi perbincangan yang serius di kalangan masyarakat banyak, dan kasus-kasus lainnya yang tak kunjung selesai adalah contoh yang representatif dari sebuah konflik kepentingan dan politik kekuasaan.

Sabtu, 02 April 2011

Bank Sumsel dan PLN Belum Terkalahkan

Berita Bola terkini

dikutip dari harian KOMPAS.com — Tim bola voli putra Palembang Bank Sumsel Babel dan putri Jakarta Electric PLN belum terbendung. Mereka kembali meraih kemenangan atas lawan-lawannya pada lanjutan Sampoerna Hijau Voli Proliga 2011 di GOR C-Tra Arena Cikutra, Kota Bandung, Sabtu (2/4/2011).
Rekor belum terkalahkan tim Palembang masih bertahan setelah mengalahkan putra Jakarta BNI 46 dengan skor tipis 3-2. Sementara putri Jakarta Electric PLN mengalahkan Gresik Petrokimia 3-0.
Kemenangan tim Palembang tidak diraih dengan mudah, bahkan nyaris terpeleset pada pertandingan ketujuhnya itu. Sempat memimpin dengan meraih kemenangan dua set pertama 25-21, 25-21, tetapi terkejar oleh Jakarta BNI yang meraih dua set berikutnya dengan skor ketat, 30-28 dan 26-24.
Beruntung, tim asuhan Pelatih Mashudi berhasil menguasai set ketiga dan menutup dengan kemenangan tipis, 15-13.
"Hasil ini diraih dengan susah payah. Kami akan mencari tahu kelengahan tim yang menyebabkan terkejar saat telah memimpin 2-0. Itu menjadi pekerjaan rumah kami menghadapi pertandingan berikutnya," kata Pelatih Palembang Bank Sumsel Babel Mashudi.
Sementara itu, Pelatih Jakarta BNI 46 Imam Agus Faisal menyebutkan, tim Palembang sulit untuk mereka hadang. Tim itu memiliki materi pemain cukup bagus.
"Sejak awal kami meminta pemain untuk bisa memberikan perlawanan ketat. Kekuatan mereka jelas sulit kami hadang sehingga kami tidak terlalu muluk," kata Imam yang akrab disapa Fafa itu.
Bagi Palembang, kemenangan tersebut menjadikannya sebagai tim belum terkalahkan dalam tujuh kali pertandingannya dengan nilai sempurna, sembilan. Bagi Jakarta BNI, kekalahan itu membuat peluangnya semakin tertutup untuk bisa menembus final four.
Pada pertandingan lainnya di kelompok putri, tim Jakarta Electric PLN juga melanjutkan dominasinya sebagai tim yang belum terkalahkan. Pada awal laga putaran kedua di Bandung itu, Jakarta Electric mengalahkan putri Gresik Petrokimia dengan 3-0 (25-18, 25-23, 25-22).
Jakarta Electric yang tahun ini berpeluang melakukan hattrik juara Proliga itu dipastikan lolos ke babak empat besar. Meski telah lolos, tim Jakarta Electric sesumbar tak akan mengendur dan tetap meraih poin maksimal.
Jakarta Electric PLN diperkirakan kian mendominasi dengan bergabungnya dua pemain China, Yan Ni dan Meng Yi. Berbeda dengan Gresik Petrokimia yang terpaksa harus turun dengan satu pemain asing, yakni Paula Alves. Satu pemain asing lainnya, Jalicia Rose, cedera.

Jumat, 01 April 2011

Ekonomi Syariah menuju Perekonomian Dunia


IAIN-Ukhuwah, Dalam rangka Pelantikan HMI Syariat Fakultas Syariah, para anggota HMI mengadakan seminar yang bertema “Peluang dan Tantangan Ekonomi Syariah terhadap perkembangan ekonomi dunia”. Yang akan dilaksanakan pada sabtu tanggal 2 April 2011 bertempat di Gedung Auditorium IAIN Raden Fatah Palembang. Sedangkan pembukaan pendaftaran seminar ini sudah dimulai sejak 21 Maret 2011 s/d 1 April hari ini.
Seminar Ekonomi Syariah yang mendatangkan pembicara antara lain, Barariani, Direktur Bank SumselBabel, Duski Ibrahim, Dekan Fakultas Syariah dan Renol Sumantri, Dosen D3 Perbankan serta Budi Santoso Pakar Ekonomi SUMSEL.
“Seminar tersebut bertujuan untuk membangun solidaritas yang tinggi diantara para kader HMI Syariat Fakultas Syariah,  mencari solusi ke depan untuk ekonomi syariah agar mampu bersaing di perekonomian dunia, dan memberi pemahaman tentang ekonomi syariah  yang lebih terperinci kepada seluruh mahasiswa khususnya mahasiswa fakultas syariah.” Ungkap Deniansyah, Ketua Pelaksana seminar tersebut.
Dia juga menambahkan, diperkirakan biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan seminar ini adalah Rp 3.500.000,-. Sedangkan kendala-kendala yang dihadapi selama membuka stand seminar tersebut tidak ada, dan sejauh ini semuanya berjalan lancar.
“Sasaran utama dalam mengadakan seminar ini adalah mahasiswa-mahasiswa yang ada di kota Palembang, khususnya mahasiswa IAIN raden Fatah Palembang dan terlebih khusus lagi mahasiswa fakultas Syariah. Sementara ini peserta yang sudah mendaftar untuk mengikuti seminar tersebut berjumlah kuarang lebih 200 peserta.” Jelasnya menambahkan.
Deniansyah juga menambahkan untuk mengikuti seminar ini, peserta hanya membayar konstribusi sebesar Rp 5.000,- , dengan konstribusi tersebut mereka sudah mendapatkan fasilitas berupa makan siang, snack, sertifikat, dan pastinya menambah ilmu pengetahuan.
“Saya berharap seminar Ekonomi Syariah yang akan diadakan besok berjalan dengan lancar dan hikmat serta bisa memberikan manfaat ilmu pengetahuan terhadap peserta maupun mahasiswa IAIN  pada umumnya.” Tungkasnya.

By : Dwi Indarwati & Dwi Latifah

Rabu, 30 Maret 2011

Ushuluddin Award, Bahas Metamorfosa IAIN Menjadi UIN

Gubernur meresmikan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
Rektor, Gubernur, H. Halim, Kiagus Dencik dan Kailani (Dekan Ushuluddin) menerima Ushuluddin Award

Gubernur dan tamu Undangan menerima buku dibalik tirai kesungguhan UIN

   IAIN-Ukhuwah, mulai hari ini, Kamis (30/03) Fakultas Ushuluddin resmi berganti nama menjadi Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Berubahnya nama Fakultas Ushuluddin tersebut langsung diresmikan oleh Gubernur Sumatera Selatan (SUMSEL), Alex Noerdin. Peresmian yang diselenggarakan di Gedung Academic Center ini juga dihadiri oleh seluruh birokrat IAIN Raden Fatah Palembang, PANGDAM II Sriwijaya, Kapolda SUMSEL.
            Dalam acara persemian tersebut, juga dibuka Konsentrasi Tasawuf Psikoterapi pada Jurusan Aqidah Filsafat. Kailani Mustofa, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam mengatakan bahwa alasan bergantinya nama dan pembukaan Konsentrasi Tasawuf Psikoterapi dikarenakan agar terbuka pemikiran kita dalam mengembangkan studi-studi yang baru.
            Dia juga menambahkan, kedepan Konsentrasi Tasawuf Psikoterapi ini akan menerima mahasiswa baru pada bulan Mei dan akan menampung sebanyak dua kelas yang berjumlah 80 mahasiswa. Mengenai tenaga pengajarnya, Kailani menambahkan sudah ada dosen IAIN yang berkompeten dalam konsentrasi tersebut.
            Dalam acara tersebut diselenggarakan juga penganugerahan Ushuluddin Award, yang mana ada tiga tokoh sumsel yang mendapatkannya. Antara lain yaitu Alex Noerdin, Kemas H. Abdul Halim Ali dan Kiagus Ahmad Nawawi Dencik Alhafidz. Hal tersebut dikarenakan ketiga tokoh sumsel tersebut memiliki peran dalam memajukan pendidikan Islam, antara lain yakni pertama; komitmen dan perhatian yang tinggi dalam terhadap dunia pendidikan Islam, seperti terus menerus melakukan pembinaan terhadap generasi muda Islam, dan pemberian beasiswa. Kedua; memberikan dukungan agar terwujudnya Universitas Islam Negeri (UIN). Ketiga; Mendidik dan mengajarkan hingga muncul qari’ dan qari’ah serta hadidz dan hafidzah yang telah dikirim hingga ke luar negeri.
            Selain itu, dalam acara itu juga dilangsungkan launching buku yang berjudul “Dibalik Tirai Kesungguhan Mewujudkan UIN Raden Fatah; Refleksi Gerak Nyata Gubernur, Rektor, dan Tokoh SUMSEL” yang ditulis oleh Riza Pahlevi, Afriantoni, dan Nazarmanto.
             Seusai acara-acara di atas, dilangsungkan juga kuliah umum dari Gubernur SUMSEL, Alex Noerdin yang membahas tema “Nilai Strategis SEA Games XXVI tahun 2011 bagi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Sumatera Selatan.” Kuliah umum tersebut disampaikan langsung oleh Alex Noerdin yang mengupas persiapan infrastruktur SEA Games XXVI tahun 2011 nanti, dan juga keuntungan-keuntungan yang didapat Provinsi Sumatera Selatan pasca SEA Games XXVI 2011.
            Dalam sambutannya, dia juga menyinggung masalah perubahan IAIN Raden Fatah menjadi UIN Raden Fatah. Dalam hal ini lahan seluas 35 hektar yang berada di Jakabaring akan menjadi tempat berdirinya UIN Raden Fatah Palembang yang berdampingan dengan Masjid Raya Sriwijaya dan Islamic Center.
            Dia juga menambahkan, pembangunannya dimulai tahun 2012 tepatnya usai berhasil melaksanakan SEA Games XXVI yang akan dilaksanakan pada 11 November 2011. “Setelah itu barulah kita fokus melaksanakan tiga pembangunan yaitu Masjid Raya Sriwijaya, Islamic Center, dan UIN Raden Fatah Palembang.” Jelasnya.
            Aflatun Muchtar, Rektor IAIN Raden Fatah Palembang juga mengatakan hal yang sama. Ketika dikonfirmasi sebelum acara, dia mengungkapkan bahwa start pembangunan UIN Raden Fatah pada tahun 2012.
            “Berkas untuk menjadi UIN sudah masuk ke dalam bluebook BAPPENAS dan telah mendapat persetujuan dari tokoh-tokoh sumsel yang ada di Jakarta, seperti Marzuki Ali ketua DPR RI, Mahyudin ketua komisi X DPR RI, Syofwatillah Mohzaib yang merupakan alumni IAIN Raden Fatah dan sekarang menjadi anggota DPR RI.” Tuturnya.
            Aflatun juga menambahkan bahwa dana pembangunan untuk menjadi UIN Raden Fatah ini didapat dari IDB sebesar $ 35 juta dan $ 6 juta dari pemerintah.
            Wenny, mahasiswi fakultas Tarbiyah berharap agar perubahan menjadi UIN ini benar-benar terjadi tidak seperti sebelum-sebelumnya yang hanya omongan doang.

                                                                                                                        By. Anas

Senin, 28 Maret 2011

Penelitian Sekaligus Refreshing



            IAIN-Ukhuwah, adanya mata kuliah Praktek Penelitian Pendidikan dalam silabus mahasiswa fakultas Tarbiah mewajibkan mahasiswa angkatan ’08 baik itu jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) maupun Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dan beberapa jurusan lain untuk mengambil mata kuliah tersebut. Tujuannya agar terlatih dan fokus dalam melaksanakan penelitian seperti instrument penelitian, wawancara, dan dokumentasi, yang mana dari penelitian tersebut untuk mempersiapkan penysunan skripsi setelah melakukan penelitian. Biasanya, mahasiswa yang sudah mengambil mata kuliah ini langsung mengajukan proposal untuk bimbingan skripsi.
            Senin (28/03), sejumlah mahasiswa jurusan PAI dan PBA pergi melakukan penelitian di Pesantren Darul Muttaqin di Kecamatan Dempo, Pagaralam. Musli, ketua pelaksana kegiatan penelitian tersebut membenarkannya. Dia juga menambahkan sebanyak 65 mahasiswa yang ikut dalam kegiatan tersebut yang langsung didampingi oleh dosen pembimbing mata kuliah Praktek Penelitian Pendidikan, yaitu Munir M.Pd.I..
             Musli juga menambahkan bahwa kegiatan ini tidak dipaksa, bagi mahasiswa yang tidak bisa mengikutinya maka akan mendapatkan tugas dari dosen mata kuliah ini.
            “Manfaat dari kegiatan itu untuk memudahkan dalam penyusunan skripsi. Kegiatan ini diadakan selama lima hari di sana. Selain itu juga keberangkatan kami  sudah mendapatkan surat izin dari Dekan Fakultas Tarbiah dan orang tua mereka masing-masing.”. Tambah Musli.
            Mengenai biaya kegiatan ini, Musli menambahkan murni dari pribadi mahasiswa tidak ditanggung oleh Rektorat maupun pihak Fakultas, dalam kegiatan penelitian ini  harus mengeluarkan uang sebesar Rp 300.000,- / orang.
“Saya dan teman-teman pun sangat senang mengikuti penelitian ini selain dapat menambah wawasan kami juga bisa refreshing apalagi banyak teman-teman yang ikut bahkan hampir seluruhnya, untuk kelas PAI ‘08 ini sendiri. Meskipun ada sedikit kendala, namun itu bisa diatasi, dan kami tetap semangat.” Tambahnya.
Mengenai tempat menginap, Musli menuturkan sampai saat ini belum tahu karena belum ada konfirmasi kepada saya.
Menurut Munir, dosen pembimbing mata kuliah ini, selama melakukan kegiatan penelitian ini kami akan menginap di Pondok Pesantren Darul Muttaqin selama lima hari yaitu mulai dari hari senin sampai hari jumat.
“Harapan saya, semoga dengan diadakannya kegiatan penelitian ini semua mahasiswa dapat dengan mudah dalam menyusun skripsi sebagai tugas akhir dan sebagai syarat menjadi sarjana.” Pungkasnya.
By. Andika, Nova, winda, puji, Iwan

Sabtu, 26 Maret 2011

Entrepreneurship, Salah Satu Solusi Mahasiswa


            IAIN-Ukhuwah. Seiring dengan terpuruknya perekonomian Indonesia saat ini akibat hutang Luar Negeri yang membengkak, serta sang penghutang Amerika pun terkena krisis. Maka pemulihan ekonomi yang berbasis kerakyatan menjadi aktual. Dalam menghadapi semua problematika tersebut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) datang dengan menggelar Seminar Entrepreneurship. Acara yang digelar Sabtu pagi (26/03) di Auditorium IAIN ini berjalan lancar dan khidmat. Seminar yang bertemakan “Menjadi Mahasiswa Entrepreneurship berbasis kampus”, yang merupakan salah satu pelatihan bagi para mahasiswa yang ingin menjadi seorang wirausahawan.
          Dihadiri oleh Romli, Pembantu Rektor (PR) III, dan Karomah, Pembantu Dekan (PD) III Fakultas Tarbiyah sebagai perwakilan dari birokrasi IAIN Raden Fatah. Tidak hanya itu, seminar ini juga dihadiri oleh Wakil Wali Kota (Wawako) Palembang Romi Herton, Syamsul Rizal, Zainal Berlian, serta H. Umar Husein yang kesemuanya sebagai pemateri dalam seminar ini. Jumlah peserta yang hadir sebanyak 230 orang yang berasal tidak hanya dari mahasiswa IAIN saja, tapi juga perguruan tinggi yang ada di Palembang, seperti PGRI, Universitas Muhammadyah Palembang (UMP).
          M. Ramadhan, ketua pelaksana kegiatan seminar ini menerangkan bahwa kegiatan ini merupakan program dari KPP (Keriwausahaan Perkembangan Potensi) yang bertujuan untuk membentuk jiwa seorang wirausaha pada diri mahasiswa yang berbasis kampus, sehingga mahasiswa setelah menyelesaikan studinya tidak hanya mengandalkan bekerja sebagai birokrasi, PNS, dan sebagainya. “Tetapi tidak hanya itu, dengan diadakan seminar ini mahasiswa bisa menjadi seorang wirausahawan dengan membuka usaha seperti bimbingan belajar yang secara tidak langsung membuka peluang kerja bagi para pengangguran yang lainnya.” Tambahnya.
          “Pada umumnya mahasiswa sekarang kebanyakan merasa malu untuk mencoba mencari peluang berwirausaha karena mereka beranggapan bahwa apa yang mereka lakukan hanya menjadi bahan tertawaan orang lain” jelasnya.
Pemuda yang akrab dipanggil Rama ini juga menjelaskan untuk melaksanakan kegiatan tersebut telah menelan dana sebesar Rp 5.000.000,-. “Selain itu kendala-kendala yang dihadapi dalam melaksanakan kegiatan ini lebih terfokus pada kendala teknis dan pesertanya, dimana beberapa hari sebelum kegiatan ini berlangsung panitia menyiapkan kursi sebanyak 250 kursi dengan peserta sebanyak 230 orang. Tapi pada saat kegiatan berlangsung banyak peserta, termasuk undangan juga tidak mendapatkan tempat duduk.” Ungkapnya.
Candra Wijaya (21), salah satu peserta dalam seminar ini mengatakan bahwa kegiatan seminar ini menjadi tolak ukur mahasiswa untuk mengubah paradigma mereka yang beranggapan bahwa setelah menyelesaikan studinya, mereka hanya bisa bekerja menjadi PNS dan sebagainya.
         “Padahal pada kenyataannya mereka mempunyai banyak peluang-peluang untuk membuka usaha selain menjadi seorang PNS.” Ungkap Candra yang juga mahasiswa fakultas hukum UMP.
Lain halnya dengan Sri Tia (21), Mahasiswi fakultas Tarbiyah semester VI mengungkapkan bahwa Entrepreunuership ini merupakan salah satu seminar yang menambah wawasan bagi para mahasiswa untuk bisa membuka usaha agar mereka bisa menjadi mandiri dengan tidak mengandalkan satu pekerjaan saja.


By : Dwi indarwati, I’ik, mayang, Erick

Jumat, 25 Maret 2011

Pemilihan Rektor, Banyak Mahasiswa Tidak Tahu

IAIN-Ukhuwah, Jumat (25/03) telah dilangsungkan pemilihan Rektor IAIN Raden Fatah yang baru. Pemilihan berlangsung di gedung pasca sarjana IAIN Raden Fatah Palembang, tepatnya di lantai tiga. Yang hadir dalam pemilihan tersebut hanyalah para anggota senat IAIN Raden Fatah Palembang, sedangkan mahasiswa tidak diperbolehkan masuk.
Abdul Karim, Gubernur Mahasiswa Fakultas Tarbiyah membenarkan hal tersebut. Jelasnya, berdasarkan peraturan Menteri Agama tahun 2006 pasal dua mengenai tata cara pemilihan rektor yaitu dipilih langsung oleh anggota senat.
Mengenai kandidat calon rektor, dia menambahkan bahwa berdasarkan peraturan Menteri Agama pasal satu syarat-syarat untuk menjadi calon rektor yaitu pertama; beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME. Kedua; minimal sudah mengenyam pendidikan sampai Strata 3 (S 3) atau sudah mendapat gelar doktor.
“Sampai saat ini, sepengatahuan saya kandidat calon rektor tersebut ada empat orang antara lain Musnur Heri, Cholidi, Ismail, dan Aflatun Muchtar. Meskipun berdasarkan peraturan menteri agama bahwa maksimal calon rektor itu hanya tiga orang.” Ungkap Abdul Karim.
Ketika ditanya mengenai geliat mahasiswa, Karim menerangkan bahwa hanya mahasiswa yang berjiwa aktivis yang tahu mengenai pemilihan rector ini.
Terbukti, seperti apa yang dikatakan oleh Sulaiman, mahasiswa semester dua Jurusan PAI fakultas Tarbiyah. Dia mengaku tidak tahu kalau pemilihan rektor hari ini.
Dia juga menambahkan, hal ini dapat terjadi dikarenakan kurangnya sosialisasi dari pihak panitia pemilihan rektor kepada mahasiswa. “Hal ini sangat disayangkan, karena menyebabkan mahasiswa tidak tahu dengan calon-calon rektor tersebut.” Jelasnya.
Zulfiah, mahasiswa semester empat jurusan PBA juga mengeluhkan hal yang sama. Menurutnya, sosialisasi dari panitia sangat kurang. “Apalagi untuk mahasiswa seperti kami ini yang hanya kuliah, jadi sosialisasi harus dari jauh-jauh hari agar kami bisa mengetahuinya dan bisa mengenal kandidat calon-calon rektornya.” Ungkapnya.
“Saya hanya berharap agar pemilihan rektor kedepan tidak seperti ini, yang sosialisasi terhadap mahasiswanya kurang.” Pungkasnya.
By. Anas